Thursday, July 2, 2009

Sebuah Nasihat (untuk diri sendiri)

Katanya yang pertama dihisab kelak setelah kita dibangkitkan kembali pasca kematian ada 2 hal :
1. Shalat kita
2. Masa muda kita dihabiskan untuk apa ...

So nasihat untuk diri sendiri dan kepada semua ikhwatifillahu (rekan2 yg dirahmati Allah), hayu atuh urang rame2 jadi orang yang muttaqin, simple loh ... cuman perlu konsisten menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya ... Sederhana kan ? Saya yakin kita semua sudah tahu apa saja perintah2 & larangan2 tersebut, baik dalam hubungan vertikal kita dengan sang Khalik maupun interaksi horizontal kita dengan sesama makhluk. Baca: bukan dengan manusia saja loh, tapi dengan semua ciptaan Allah, baik benda hidup maupun benda mati, karena bukankah semua ciptaan Allah itu bertasbih kepadaNya ?. Karena ngga mau kan kita buang sampah sembarangan yang bisa menyebabkan banjir misalnya, ketika benda berwujud sampah itu sedang bertasbih kepada Allah, dan benda tersebut mendoakan kita agar mendapat azab atas kedzaliman (sekecil apapun) yang kita lakukan dengan mengotori alam tersebut. Nah, dalam kasus ini, ternyata jangan lah jadi insan muttaqin yang egois, yang mau selamat dunia-akhirat sendiri saja, but please ajak juga istri/suamimu, ibu, adik, kakak, dan seluruh orang2 yang kamu cintai & sayangi untuk kembali ke jalan ketauhidan. Hati2 loh ... jaman sekarang yang namanya kemusyrikan itu bersifat kontemporer, artinya ngga gampang terdeteksi kalau yang kita lakukan itu sangat dekat dengan kemusyrikan. Saya ngga bermaksud membahas pergi ke dukun atau menyembah berhala dan yang sejenisnya, karena saya yakin teman2 sudah paham tentang ini. Yang saya maksud adalah apakah kita sudah benar2 yakin bahwa perilaku kita sehari-hari sudah mencerminkan ikrar kita yang merupakan rukun Islam yang pertama: " Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi Muhammad itu Rasul Allah" ? Bagaimana kita bisa dengan percaya dirinya mengklaim kita sudah Islam dan pasti masuk surga (mungkin setelah beberapa saat menjalani pemurnian di neraka), ketika kita belum yakin sepenuhnya bahwa rizki, jodoh dan kematian adalah di tangan Allah, dan sama sekali bukan kewenangan makhlukNya ?

Akan saya bahas satu persatu ... Pertama dalam hal rizki, coba renungkan perilaku kita di kantor dan setelah pulang dari kantor. Mungkin ini kritikan untuk diri saya sendiri.... Sering kali kita merasa bahwa nasib kita ditentukan oleh bos kita, kenaikan gaji dan pangkat kita adalah kewenangan bos kita, kita bahkan percaya bahwa uang dan materi adalah tujuan akhir dari pekerjaan yang kita lakukan.Menurut hemat saya, ketika kita menautkan nasib kita di tangan makhlukNya, dan bukannya terhadapNya, kita sudah dekat dengan kemusyrikan modern. Dan hati-hatilah, musyrik itu dosa yang tidak bisa diampuni.
Selepas membanting tulang di kantor, kadang kita merasa layak dan sudah sewajarnya menikmati hidup, entah dengan belanja sesuatu yang tidak benar2 kita butuhkan dan mulai memakai segala hal yang bermerek mulai dari pakaian luar sampai pakaian dalam, makan dan clubbing di tempat yang mewah dan sangat dekat dengan khamar-zinah, berlibur ke Bali atau ke luar negeri, ... semuanya atas nama gaya hidup dan dengan justifikasi "Work hard, play hard". Saat kita mengenakan pakaian bermerek dan sedang bersenang-senang tersebut pernahkah barang sejenak kita ingat pengemis yang berderetan di jembatan penyebrangan di seantero jakarta, pengamen anak jalanan yang datang setiap 3 menit sekali ketika anda makan di pinggir Jl. Bendungan Hilir Jakarta, ngga usah jauh2 ke Afrika or Palestina lah. Atau bahkan yang lebih dekat lagi, adakah keluarga kita yang sebenarnya bisa kita bantu, entah untuk keperluan sekolah atau untuk kebutuhan primer yang mereka tidak bisa penuhi sendiri. Apalagi jika orang itu adalah Ibu, Bapak, dan saudara kandung kita sendiri. Mungkinkah kita menciptakan pembenaran2 kita sendiri untuk melupakan kaum papa di sekitar kita, baik keluarga maupun bukan ? Mungkinkah nurani ini telah redup lampunya dan sebentar lagi akan padam cahayanya sehingga kita tidak lagi merasa iba dengan kondisi memprihatinkan di sekitar kita ?

Dalam kasus jodoh pun sama, kadang kita mencintai makhluk Allah melebihi pencipta makhluk tersebut, yakni Allah SWT. Kita mulai menuhankan gadis/pria yang kita cintai, buktinya apa ? Kita memujanya, kita turuti segala keinginannya, image of her/him selalu terbayang di benak kita dari bangun tidur sampai ketika akan beranjak tidur kembali. Sadarkah kita bahwa dengan begini, inti tauhid, yaitu mengesakan Allah dengan senantiasa mengingatnya (baca: berdzikir), menjadi tergantikan ? Sudah terlalu banyak kasus dan contoh baik dari orang yang kita kenal, public figure, dll.. bahwa cinta itu membutakan. Ya, ungkapan yang benar seharusnya cinta itu membutakan (love is blinding) bukannya cinta itu buta (love is blind).

Dalam hal kematian pun mirip, dengan pongahnya kita menunda-nunda saat untuk bertaubat dan berhijrah, dengan alasan hidup masih panjang, saya masih ingin senang2, dll. Padahal kematian mengintip setiap saat. Saya bisa saja mati saat ini juga ketika sedang mengetik email ini sambil mendengarkan sayatan nada biola instrumentalia doaku-nya Haddad Alwi, misalnya karena serangan jantung (ayah dan kakaknya ayah saya meninggal karena sudden heart attack), atau karena sebab2 lainnya yang siap mencabut nyawa dari raga yang fana ini. Begitu pula dengan anda yang membaca email ini, hati-hatilah ... anda bisa saja meninggal seketika ketika sedang membaca email ini dengan 1001 sebab yang mungkin terjadi. Ngga perlu sakit kronis dulu u meninggal ! Teman ayah saya wafat karena tertimpa pagar besi ketika sedang membuka pagar tersebut agar mobilnya dapat masuk ke garasi. Pernahkah terlintas di benak anda sebab kematian yang satu ini ? Saya yakin jawabannya tidak.

Kembali ke pokok bahasan, ada saat2 di dalam karir dan relationship kita dengan pasangan masing2, di mana kita menomorsekiankan Allah dari hidup kita (mudah2an saya salah). Bisa saja kita sudah melakukan perintahNya dalam bentuk ritual ibadah, bahkan bukan hanya yang wajib, yang sunnah pun kita lakukan. Namun, apakah ibadah tersebut sudah terefleksikan di dalam hidup kita sehari-hari ? Silakan kita (anda dan saya) jawab pertanyaan ini di dalam hati masing2. Kita mungkin sudah tahu bahwa kita seharusnya begini, kita semestinya begitu (misal amalan yg wajib: shalat wajib,hijab/jilbab bagi wanita baligh; amalan wajib yang diutamakan: shalat di awal waktu dan sebisa mungkin berjamaah), kita dilarang ini dan tidak boleh begitu (yang haram : misal berzina --> dalam makna yang harfiah dalam hal ini sexual intercourse, atau dalam makna turunannya : kissing, deep kissing, pegang ini, pegang itu; khamar, dll). Namun mengapa dalam prakteknya kita pilih2 dalam mematuhinya ? Kita melaksanakan shalat tapi tetap korupsi di kantor misalnya, kita puasa siangnya tetapi malamnya asyik indehoy dengan pacar di kamar atau di bioskop, atau yang ringan2lah kita yang anda dan saya pernah alami di kehidupan masing2. Ada istilah populer untuk hal ini STMJ, shalat terus maksiat jalan. Pertanyaanya mengapa hal ini bisa terjadi ? Mengapa untuk bisa taubat, dan hijrah sepenuhnya itu ngga semudah kata2 : "cukup menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya" ? Mengapa ? Mengapa ? Kadang mungkin kita menangis dalam doa, meratapi kelemahan diri masing2, yang sebenarnya sudah berniat dan berazzam (baca: bertekad) untuk taubat dan hijrah. Tapi ya itu, kelemahan2 kita tersebut acap kali muncul lagi dan muncul lagi.... Benar sekali apa yang Rasulullah katakan, bahwa perang terbesar adalah perang melawan hawa nafsu ... Insya Allah kita semua (anda dan saya) bisa senantiasa istiqamah menuju Continous Improvement diri masing2 ... Yang penting kita tahu dulu posisi masing2 dan kelemahan masing2 ... untuk selanjutnya melakukan usaha tak kenal lelah untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi setiap harinya ... Ngga masalah jika dalam prakteknya kita jatuh bangun bahkan mungkin terhantam gada berulang kali ... Allah tidak pernah memalingkan pandanganNya barang seper1000 detik pun terhadap kita .Setiap amal perbuatan dan dosa, sekecil mikroba pun, akan ada balasannya. Jangan ditunda lagi ... Ramadhan sudah menjelang di 2 bulan ke depan ... Bisa jadi ini adalah Ramadhan terakhir kita ... Jangan buang waktu lagi ... Demikian pula halnya dengan saya, ngga mau buang waktu lagi ... ngga kerasa udah jam23.57, tadi abis main futsal iseng ke kantor lagi ... udah ah mau pulang dulu .... hoaaaam, ngantuk nih temans ...

1 comment:

  1. Jadi spechless ngebacanya. yaps jangan buang waktu lagi......

    ReplyDelete