Monday, July 20, 2009

Self-Healing, Does It Exist ?

It all started with an ice cream
Jumat sore saat akan bersiap-siap pulang, saya iseng melihat pantry lantai 11 kantor saya bekerja. Ternyata di kulkas masih ada Ice Cream yang sengaja dibeli untuk merayakan ulang tahun salah seorang manager di kantor saya satu hari sebelumnya. Awalnya Thia dengan malu-malu bertanya, mau makan ice cream-nya ngga ? Saya jawab dengan langsung mencomot piring kecil dan garpu dari rak, lalu saya gelontorkan di meja makan. Bagaikan telepati, Thia a.k.a Ny.Shadiq langsung paham langkah selanjutnya, yaitu mengeluarkan ice cream tersebut dari kulkas. Dalam waktu singkat, tamatlah riwayat si Ice Cream. Tak berapa lama setelah itu, Thia dan Dias (2 orang roommate saya di kantor), beranjak pulang sebelum waktunya, because they both had a flight to catch. Dan dalam kesendirian saya di ruangan itulah rasa dingin itu mulai menyerang. Brr, kok tiba-tiba saya menggigil ya. Bukan menggigil hebat sih, tapi ya terasa saja bedanya dari yang tadinya biasa saja menjadi tiba-tiba dingin. Dalam hati firasat berkata " yah, mau sakit nih ...eh tapi sakit kok diniatin, kalo diikhlasin gak apa-apa, asal jangan diniatin ...
". Mungkin karena pengaruh dinginnya ice cream tadi atau memang kondisi tubuh yang sedang tidak prima, saya pulang ke kosan hari Jumat itu dengan merasa sedikit kedinginan. Setelah menyantap kebab sebagai makan malam, saya bingung perlukah minum panadol ? Tapi rasa-rasanya masih belum perlu, toh badan ngga terasa panas or demam. Akhirnya malam itu saya habiskan dengan 1 bungkus tolak angin biru dan tidur lebih awal.

Flying Feeling
Sabtu dini hari saya terbangun dengan perut keroncongan, ternyata 1 kebab small size tidak cukup kuat menambal rasa lapar. Akhirnya setelah melakukan ini dan itu dan menunggu shubuh tiba, saya pun safari subuh sepanjang Jl. Benhil mencari Warung Indomie. Nah, pada saat ini lah sensasi aneh itu muncul ... Setiap kali saya melangkahkan kaki, rasanya seperti "fly", terbang, sensasi yang hanya muncul ketika saya habis mengkonsumsi obat flu yang biasanya mengandung CTM (saya selalu mengasosiasikan "fly" ini dengan CTM, entah benar atau tidak secara farmakologis, yang jelas CTM itu bikin ngantuk). Sensasi aneh ini berlanjut sampai pagi menjelang. Saya sebut aneh karena sensasi ini terjadi secara alami dan bukan karena pengaruh obat apapun. Apakah mungkin ini pengaruh Tolak Angin yang saya minum satu malam sebelumnya ? Entahlah, yang jelas saya adalah pelanggan setia Tolak Angin, dan belum pernah merasakan sensasi ini sebelumnya. Saya seperti merasa diobati dari dalam oleh sesuatu .. Loh kok jadinya seperti pengalaman religi ya ? Entahlah ... Yang jelas saya bersyukur hal ini terjadi sehingga saya bisa menyelesaikan agenda saya di hari Sabtu yang memang sangat penting bagi saya.

Akhirnya saya memang meminum Panadol hijau, tapi itu baru terjadi pada Minggu siang .... dan hanya 4 butir saja yang sempat singgah ke tubuh saya dalam rentang waktu Minggu & Senin. Sensasi terbang di mana kaki terasa sangat ringan kembali menerpa saat saya berada di Wisma BNI mengikuti acara MSA. Intinya yang membuat saya heran sekaligus bersyukur adalah :
1. Tidak enak badan ini terjadi saat liburan, jadi tidak perlu cuti atau izin
2. Tanpa perlu obat, rasa sembuh yang diindikasikan dengan perasaan terbang itu sudah muncul

About the MSA
Saatnya kembali ke jalan yang benar, yaitu menjawab pertanyaan Rahma mengenai acara MSA. Awalnya sempat heran dengan konsep acaranya yang banyak selingan nyanyian. Tapi setelah menyesuaikan dengan orang-orang di sekitar, saya cukup menikmati keseluruhan acara. Kali ini artisnya adalah KIPAS dengan beberapa orang ustadz bergiliran membawakan materi tentang Rasulullah di Jakarta Intl Club Function Hall yang tidak terlalu besar & berhijab untuk memisahkan laki-laki & perempuan. Materi pertama sepertinya saya lewat karena saya datang terlambat. Materi kedua adalah tentang pentingnya memahami bangunan kenabian, pentingnya mengenal apa nabi/Rasul itu, bukan hanya Siapa Rasul itu. Materi ketiga berbicara mengenai Hijrah Rasulullah. Dari awal hingga akhir, diceritakan kisah hidup Rasulullah Muhammad SAW dari mulai lahir, pernikahan agung dengan Khadijah, pengangkatan menjadi Rasulullah, Isra Miraj, hingga wafatnya beliau, semuanya dipadukan dalam monolog, nyanyian, materi, puisi, doa, dll (persis yang Rahma bilang). Quote yang berkesan bagi saya dari acara ini ada 2:
1. Nasihat Rasulullah saat beliau akan hijrah dari Makkah ke Yatsrib (Madinah) : " Barangsiapa berhijrah dengan tujuan semata-mata hanya untuk menemukan Allah & RasulNya, niscaya pasti akan menemukan Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa berhijrah dengan tujuan untuk menemukan dunia, niscaya pasti hanya akan menemukan tujuannya, yaitu dunia".
2. Pada saat penutupan ada semacam muhasabah yang biasa dilakukan saat pesantren kilat atau acara mabit, tepatnya pasca Tahajud berjamaah. Biasanya kita pasti menangis bombay di acara seperti ini karena yang diungkit adalah Ibu kita, Ibu kita, orang tua kita, dosa-dosa kita, dll.... Di acara ini, juga terjadi tangisan tapi bukan karena membayangkan orang tua kita, melainkan karena membayangkan Rasulullah ... segala kesabaran beliau, keteladanan beliau, syafaat dari beliau untuk kita dan orang tua kita, dll. Ustadz yang membawakan muhasabah ini bisa menaruh sesuatu yang berbeda dari acara muhasabah2 lainnya.

Begitulah kira-kira reportase dari saya ... Entahlah bisa diambil hikmahnya atau cuman saya saja yang Curcol, jadi mohon maaf ya buat para pembaca yang budiman dan budiwati, hehehehe ....

Wednesday, July 8, 2009

Is This An Ending Or A New Beginning ? (July 9, 2009)

Hidup memang unpredictable. Kita tidak akan pernah tahu persis apa yang akan terjadi besok. Kemarin semuanya masih terasa damai di dalam hati ini. Semuanya masih tertata dengan rapi dalam harmoni yang menurut saya sudah according to plan. Namun, hanya gara-gara hal sepele, keteraturan itu buyar seketika, masih untung ia tidak berubah menjadi chaos yang bisa menghancurkan hal-hal yang sebetulnya tidak perlu hancur. It felt like i was pushed against the wall by other when i actually was also pushing myself. Harmoni yang saya jaga adalah sebuah keseimbangan bersumber dari kalimat “menyegerakan tetapi tidak tergesa-gesa”.

I was holding on that sentence until now. Dear Lord is this a sign from You that i have to finish this as soon as possible ? Please tell me and give me a clue Lord. Because it felt like i have done all the best that i could in order to accomplish this mission, but suddenly in the middle of the day other came to me and said that i wasn’t good enough, i wasn’t fast enough. Is this true Lord, that i wasn’t good & fast enough ? You know what’s open and what’s hidden. You know me better than i know myself. Please correct me if i’m wrong Lord, i felt like i have already been running when someone else told me that i was walking ... Please guide my way into Your way Lord. Now, I am determined to run even faster. I just want to finish this mission, no matter what the result may be ... Maybe at the end of the day, i do not get what i want, but i believe You know what’s better for me than i do... Is this related with thoughts about my mother coming into my mind each time i wanted to go to sleep ?

Soon all the questions will be answered ... Maybe it will be bitter, maybe it will become very sweet ... I do not know, and i do not wanna know ... I do not care. I just wanna this to be over, either into an absolute ending or a chapter of a brand new beginning ... Wallahu’alam.

Monday, July 6, 2009

Hanya ada satu Unpad bagiku

Barusan saya mencoba nambahin fitur video di blog ini, the one and only video i ever uploaded to youtube at least up to now. A video named Nidji Kecak Remix. Judulnya emang ngga penting banget, apalagi orang-orang di dalemnya (peace ya yen, vi, may, Nis, Na, hehehe LoL). Ngga ada niat untuk nonton video ini lagi karena memang saya sudah berulang kali nonton nih short clip, dan setiap kali nonton, nih clip ngga pernah gagal bikin saya kayak orang gila, termasuk kali ini. Each time i watch this, it always makes me cry and laugh at the same time. Credit for Vivi yang udah buat and compile clip ini. Yen, vi, may, Nis, Na, kalian lagi apa ? Di mana ? Sama siapa ? Lagi ngerasa apa ? Saya pengen tau ... Karena saya kangen kalian. Dulu pas perasaan kayak gini muncul pertama kali, kira-kira 3 bulan yang lalu, saya sms kalian malam-malam selepas saya nonton clip ini. Waktu itu Vivi balas kayak gini "Malam2 usil bgt smsin orang..makanya pideo jangan diliat, belom ada industri farmasi yang menciptakan obat kangen, makanya hati2 ama yang namanya kangen". Sms dari kamu Vi, belom saya delete sampai sekarang. Kesan saya pertama baca ini, ih Vi sok tegar lo Vi, sok kuat lo ... Masa sih lo ngga ngerasa kangen juga ? Masa sih hati lo ngga nyesss each time liat clip ini, liat orang-orang di dalamnya yang udah sering berbagi apa saja, suka, duka, jurnal praktikum, contekan jawaban, reagen, timbangan di lab galenik, cerita yang paliiiiing pribadi banget, curhatan tentang cowok or cewek, dumelan kondisi kampus yang kadang bikin kita sebel banget, aa tedi yang baik banget, Bu keri yang anggun banget, ahhh... Masa-masa itu telah berlalu. Belum lagi kalau kita inget masa-masa diskusi kita menjelang kompre, wuih setiap ada space kosong, di situlah kita berada saling bertukar ilmu, mulai dari di tempat Eni, kosan Ratna, kosan Elis, dll. Masa sih Vi kamu ngga mencelos hatinya mengingat masa-masa ini ? Coba mundur lebih jauh lagi, ke masa-masa semester awal kita, kesibukan kita manage Himafar (gue), Rohis (ivi), BEM KEMA (Nisa banget, hehehe), Lab Kimdas (yeyen), BEM MIPA (Ratna and Maya, Ratna dengan Yanuarnya, Maya dengan Ojinya). Mundur ? Apakah kita harus mundur ? Kan waktu sudah ngga mungkin bisa mundur ? Kan ngga mungkin kita bisa hidup dalam masa lalu ? Habis gimana ya, kalian itu memang tak tergantikan ! Kalian itu udah jadi satu paket dengan Unpad Jatinangor yang sangat saya cintain. Unpad oh Unpad, dicintai tapi kadang dimaki ... Ingin rasanya bisa membekukan semua kenangan indah kita di Unpad, baik kenangan yang kita lalui bersama, maupun yang kita lalui masing-masing selama kita tinggal dan menetap di Jatinangor. Lihat kita sekarang, saya ngga tahu kabar kalian kayak gimana ! Saya ngga dateng ke nikahannya Maya ! Temen macam apa sebenarnya saya ini ? Maafin ya teman-temanku, maafin ya Unpadku ... Andai pun kita bisa berkumpul kembali, paling hanya beberapa jam di sebuah Mall di jakarta/Bandung atau di 21 atau di Gedung Pernikahan somewhere saat salah satu dari kalian menikah. Tapi saya ingin berkumpul dengan kalian selamanya. Saya ngga mau berpisah dengan orang-orang dan almamater yang saya cintai ... sangat. Hihihi ... hanya ada satu jalan keluar terhadap keposesifan yang sedang melanda diri ini. All we can do is to be a better person everyday, so that someday we can meet again, we can gather again eternally in His heaven. Mudah-mudahan kalian juga mencintai saya sebagaimana saya mencintai kalian ... Mudah-mudahan kita bisa memberikan syafaat terhadap orang-orang yang kita cintai agar kita ngga akan pernah terpisah lagi ... agar kita bisa berkumpul selamanya di surgaMu ya Allah. Jangan pisahkan kami ya Rabb, karena hanya ada satu Unpad bagiku...

Thursday, July 2, 2009

Sebuah Nasihat (untuk diri sendiri)

Katanya yang pertama dihisab kelak setelah kita dibangkitkan kembali pasca kematian ada 2 hal :
1. Shalat kita
2. Masa muda kita dihabiskan untuk apa ...

So nasihat untuk diri sendiri dan kepada semua ikhwatifillahu (rekan2 yg dirahmati Allah), hayu atuh urang rame2 jadi orang yang muttaqin, simple loh ... cuman perlu konsisten menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya ... Sederhana kan ? Saya yakin kita semua sudah tahu apa saja perintah2 & larangan2 tersebut, baik dalam hubungan vertikal kita dengan sang Khalik maupun interaksi horizontal kita dengan sesama makhluk. Baca: bukan dengan manusia saja loh, tapi dengan semua ciptaan Allah, baik benda hidup maupun benda mati, karena bukankah semua ciptaan Allah itu bertasbih kepadaNya ?. Karena ngga mau kan kita buang sampah sembarangan yang bisa menyebabkan banjir misalnya, ketika benda berwujud sampah itu sedang bertasbih kepada Allah, dan benda tersebut mendoakan kita agar mendapat azab atas kedzaliman (sekecil apapun) yang kita lakukan dengan mengotori alam tersebut. Nah, dalam kasus ini, ternyata jangan lah jadi insan muttaqin yang egois, yang mau selamat dunia-akhirat sendiri saja, but please ajak juga istri/suamimu, ibu, adik, kakak, dan seluruh orang2 yang kamu cintai & sayangi untuk kembali ke jalan ketauhidan. Hati2 loh ... jaman sekarang yang namanya kemusyrikan itu bersifat kontemporer, artinya ngga gampang terdeteksi kalau yang kita lakukan itu sangat dekat dengan kemusyrikan. Saya ngga bermaksud membahas pergi ke dukun atau menyembah berhala dan yang sejenisnya, karena saya yakin teman2 sudah paham tentang ini. Yang saya maksud adalah apakah kita sudah benar2 yakin bahwa perilaku kita sehari-hari sudah mencerminkan ikrar kita yang merupakan rukun Islam yang pertama: " Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi Muhammad itu Rasul Allah" ? Bagaimana kita bisa dengan percaya dirinya mengklaim kita sudah Islam dan pasti masuk surga (mungkin setelah beberapa saat menjalani pemurnian di neraka), ketika kita belum yakin sepenuhnya bahwa rizki, jodoh dan kematian adalah di tangan Allah, dan sama sekali bukan kewenangan makhlukNya ?

Akan saya bahas satu persatu ... Pertama dalam hal rizki, coba renungkan perilaku kita di kantor dan setelah pulang dari kantor. Mungkin ini kritikan untuk diri saya sendiri.... Sering kali kita merasa bahwa nasib kita ditentukan oleh bos kita, kenaikan gaji dan pangkat kita adalah kewenangan bos kita, kita bahkan percaya bahwa uang dan materi adalah tujuan akhir dari pekerjaan yang kita lakukan.Menurut hemat saya, ketika kita menautkan nasib kita di tangan makhlukNya, dan bukannya terhadapNya, kita sudah dekat dengan kemusyrikan modern. Dan hati-hatilah, musyrik itu dosa yang tidak bisa diampuni.
Selepas membanting tulang di kantor, kadang kita merasa layak dan sudah sewajarnya menikmati hidup, entah dengan belanja sesuatu yang tidak benar2 kita butuhkan dan mulai memakai segala hal yang bermerek mulai dari pakaian luar sampai pakaian dalam, makan dan clubbing di tempat yang mewah dan sangat dekat dengan khamar-zinah, berlibur ke Bali atau ke luar negeri, ... semuanya atas nama gaya hidup dan dengan justifikasi "Work hard, play hard". Saat kita mengenakan pakaian bermerek dan sedang bersenang-senang tersebut pernahkah barang sejenak kita ingat pengemis yang berderetan di jembatan penyebrangan di seantero jakarta, pengamen anak jalanan yang datang setiap 3 menit sekali ketika anda makan di pinggir Jl. Bendungan Hilir Jakarta, ngga usah jauh2 ke Afrika or Palestina lah. Atau bahkan yang lebih dekat lagi, adakah keluarga kita yang sebenarnya bisa kita bantu, entah untuk keperluan sekolah atau untuk kebutuhan primer yang mereka tidak bisa penuhi sendiri. Apalagi jika orang itu adalah Ibu, Bapak, dan saudara kandung kita sendiri. Mungkinkah kita menciptakan pembenaran2 kita sendiri untuk melupakan kaum papa di sekitar kita, baik keluarga maupun bukan ? Mungkinkah nurani ini telah redup lampunya dan sebentar lagi akan padam cahayanya sehingga kita tidak lagi merasa iba dengan kondisi memprihatinkan di sekitar kita ?

Dalam kasus jodoh pun sama, kadang kita mencintai makhluk Allah melebihi pencipta makhluk tersebut, yakni Allah SWT. Kita mulai menuhankan gadis/pria yang kita cintai, buktinya apa ? Kita memujanya, kita turuti segala keinginannya, image of her/him selalu terbayang di benak kita dari bangun tidur sampai ketika akan beranjak tidur kembali. Sadarkah kita bahwa dengan begini, inti tauhid, yaitu mengesakan Allah dengan senantiasa mengingatnya (baca: berdzikir), menjadi tergantikan ? Sudah terlalu banyak kasus dan contoh baik dari orang yang kita kenal, public figure, dll.. bahwa cinta itu membutakan. Ya, ungkapan yang benar seharusnya cinta itu membutakan (love is blinding) bukannya cinta itu buta (love is blind).

Dalam hal kematian pun mirip, dengan pongahnya kita menunda-nunda saat untuk bertaubat dan berhijrah, dengan alasan hidup masih panjang, saya masih ingin senang2, dll. Padahal kematian mengintip setiap saat. Saya bisa saja mati saat ini juga ketika sedang mengetik email ini sambil mendengarkan sayatan nada biola instrumentalia doaku-nya Haddad Alwi, misalnya karena serangan jantung (ayah dan kakaknya ayah saya meninggal karena sudden heart attack), atau karena sebab2 lainnya yang siap mencabut nyawa dari raga yang fana ini. Begitu pula dengan anda yang membaca email ini, hati-hatilah ... anda bisa saja meninggal seketika ketika sedang membaca email ini dengan 1001 sebab yang mungkin terjadi. Ngga perlu sakit kronis dulu u meninggal ! Teman ayah saya wafat karena tertimpa pagar besi ketika sedang membuka pagar tersebut agar mobilnya dapat masuk ke garasi. Pernahkah terlintas di benak anda sebab kematian yang satu ini ? Saya yakin jawabannya tidak.

Kembali ke pokok bahasan, ada saat2 di dalam karir dan relationship kita dengan pasangan masing2, di mana kita menomorsekiankan Allah dari hidup kita (mudah2an saya salah). Bisa saja kita sudah melakukan perintahNya dalam bentuk ritual ibadah, bahkan bukan hanya yang wajib, yang sunnah pun kita lakukan. Namun, apakah ibadah tersebut sudah terefleksikan di dalam hidup kita sehari-hari ? Silakan kita (anda dan saya) jawab pertanyaan ini di dalam hati masing2. Kita mungkin sudah tahu bahwa kita seharusnya begini, kita semestinya begitu (misal amalan yg wajib: shalat wajib,hijab/jilbab bagi wanita baligh; amalan wajib yang diutamakan: shalat di awal waktu dan sebisa mungkin berjamaah), kita dilarang ini dan tidak boleh begitu (yang haram : misal berzina --> dalam makna yang harfiah dalam hal ini sexual intercourse, atau dalam makna turunannya : kissing, deep kissing, pegang ini, pegang itu; khamar, dll). Namun mengapa dalam prakteknya kita pilih2 dalam mematuhinya ? Kita melaksanakan shalat tapi tetap korupsi di kantor misalnya, kita puasa siangnya tetapi malamnya asyik indehoy dengan pacar di kamar atau di bioskop, atau yang ringan2lah kita yang anda dan saya pernah alami di kehidupan masing2. Ada istilah populer untuk hal ini STMJ, shalat terus maksiat jalan. Pertanyaanya mengapa hal ini bisa terjadi ? Mengapa untuk bisa taubat, dan hijrah sepenuhnya itu ngga semudah kata2 : "cukup menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya" ? Mengapa ? Mengapa ? Kadang mungkin kita menangis dalam doa, meratapi kelemahan diri masing2, yang sebenarnya sudah berniat dan berazzam (baca: bertekad) untuk taubat dan hijrah. Tapi ya itu, kelemahan2 kita tersebut acap kali muncul lagi dan muncul lagi.... Benar sekali apa yang Rasulullah katakan, bahwa perang terbesar adalah perang melawan hawa nafsu ... Insya Allah kita semua (anda dan saya) bisa senantiasa istiqamah menuju Continous Improvement diri masing2 ... Yang penting kita tahu dulu posisi masing2 dan kelemahan masing2 ... untuk selanjutnya melakukan usaha tak kenal lelah untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi setiap harinya ... Ngga masalah jika dalam prakteknya kita jatuh bangun bahkan mungkin terhantam gada berulang kali ... Allah tidak pernah memalingkan pandanganNya barang seper1000 detik pun terhadap kita .Setiap amal perbuatan dan dosa, sekecil mikroba pun, akan ada balasannya. Jangan ditunda lagi ... Ramadhan sudah menjelang di 2 bulan ke depan ... Bisa jadi ini adalah Ramadhan terakhir kita ... Jangan buang waktu lagi ... Demikian pula halnya dengan saya, ngga mau buang waktu lagi ... ngga kerasa udah jam23.57, tadi abis main futsal iseng ke kantor lagi ... udah ah mau pulang dulu .... hoaaaam, ngantuk nih temans ...

Thursday, June 4, 2009

Sharks In Your Life

The Japanese have always loved fresh fish. But the waters close to Japan have not held many fish for decades.

So to feed the Japanese population, fishing boats got bigger and went farther than ever. The farther the fishermen went, the longer it took to bring in the fish. If the return trip took more than a few days, the fish were not fresh. The Japanese did not like the taste.

To solve this problem, fishing companies installed freezers on their boats. They would catch the fish and freeze them at sea. Freezers allowed the boats to go farther and stay longer. However, the Japanese could taste the difference between fresh and frozen and they did not like frozen fish. The frozen fish brought a lower price.

So fishing companies installed fish tanks. They would catch the fish and stuff them in the tanks. After a little thrashing around, the fish stopped moving. They were tired and dull, but alive. Unfortunately, the Japanese could still taste the difference. Because the fish did not move for days, they lost their fresh-fish taste.

The Japanese preferred the lively taste of fresh fish, not sluggish fish. So how did Japanese fishing companies solve this problem? How do they get fresh-tasting fish to Japan? How Japanese managed to keep the fish fresh?

To keep the fish tasting fresh, the Japanese fishing companies still put the fish in the tanks. But now they add a small shark to each tank. The shark eats a few fish, but most of the fish arrive in a very lively state. The fish are challenged.

Have you realized that some of us are also living in a pond but most of the time tired & dull, so we need a Shark in our life to keep us awake and moving? Basically in our lives Sharks are new challenges to keep us active and taste better….. The more intelligent, persistent and competent you are, the more you enjoy a challenge.

If your challenges are the correct size, and if you are steadily conquering those challenges, you are Conqueror.. You think of your challenges and get energized. You are excited to try new solutions. You have fun. You are alive!

Recommendations for us:

Instead of avoiding challenges, jump into them. Beat the heck out of them. Enjoy the game. If your challenges are too large or too numerous, do not give up. Failing makes you tired. Instead, reorganize. Find more determination, more knowledge, more help.

God didn’t promise days without pain, laughter without sorrow, sun without rain, but he did promise strength for the day, comfort for the tears and light for the way.
Disappointments are like road bumps, they slow you down a bit but you enjoy the smooth road afterwards.. Don’t stay on the bumps too long. Move on!
When you feel down because you didn’t get what you want, just sit tight and be happy, because God has thought of something better to give you. When something happens to you, good or bad, consider what it means. There’s a purpose to life’s events, to teach you how to laugh more or not to cry too hard.
No one can go back and make a brand new start. But anyone can start from now and make a brand new ending.

Monday, March 9, 2009

1 Month Reflection (4 February - 9 March 2009)

"Somewhere over the rainbow, it's where you are...
You've taken my breath away & i never wonder why...
Striving for the best so that our hope will never die ...
Though there's no guarantee what the future can be ...
You and I hopefully are meant to be" ...

Thursday, February 12, 2009